June 13, 2007

Bung Karno yang Futuristik

Pada masa remaja di tahun 1960-an saya tidak bisa mengerti tindakan Bung Karno yang melarang lagu-lagu dari Barat yang disebutnya sebagai musik ngak-ngik-ngok. Waktu itu sebuah lagu dari kelompok The Beatles yang berjudul Send Me The Pillow sedang melanda dunia. Saya pun sangat menyukainya karena irama lagu itu bisa menghanyutkan jiwa remaja saya. Tindakan Bung Karno tidak hanya sampai di sini. Musik ngak-ngik-ngok buatan dalam negeri pun dilarang beredar. Lagu ‘Oh, Kasihku’ ciptaan Koes Bersaudara (kemudian berubah nama menjadi Koes Plus) dan lagu ‘Boneka dari India’ yang dinyanyikan Elya Agus (kemudian berubah nama menjadi Elya M Haris, Elya Khadam dst) juga dilarang. Bahkan Koes Bersaudara dan Elya Agus kemudian dipenjarakan. Mengapa Bung Karno begitu? Memangnya anak muda tidak boleh bersenang-senang? Alasan Bung Karno seperti yang amat sering dipidatokan, musik ngak-ngik-ngok yang biasa diiringi dansa-dansi akan merusak mental para pemuda. Menurut bahasa Bung Karno, musik produk imperialis/kapitalis itu akan melemahkan semangat juang para pemuda dan akan menghancurkan nilai kepribadian bangsa. Bung Karno yang memang jadi pejuang bangsa sejak usia muda agaknya punya alasan kuat untuk mengatakan keyakinan itu. Bung Karno juga pasti tahu pada 1960-an itu kaum muda di Cina, Jepang, atau Korea masih menahan diri untuk hidup berhura-hura karena mereka sadar harus berjuang dan bekerja keras demi kemajuan masyarakat dan bangsanya. Maka para pemuda Indonsia pun oleh Bung karno dilarang berngak-ngik-ngok dan diminta untuk lebih giat bekerja. Sayang, Bung Karno jatuh pada 1966, dan suasana sangat cepat berubah. Terjadi euforia desukarnoisasi di semua bidang. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya bermunculan pemancar radio yang dikelola oleh anak-anak muda. Lalu membanjirlah lagu-lagu Barat yang sebelumnya dilarang. Koran-koran picisan terbit dengan mudah dan bebas. Maka bukan hanya lagu, semua produk budaya pop dan gaya hidup yang dulu ditentang Bung Karno membanjir. Memang ada sedikit perlawanan dari anak-anak muda yang masih menyisakan idealisme kerakyatan, seperti yang terlihat dalam peristiwa Malari tahun 1974. Tapi gerakan perlawanan ini ditumpas habis oleh kekuatan besar yang sedang tumbuh, orde baru. Tanggal 6 Juni kemarin adalah hari lahir Bung Karno (1901). Saya jadi teringat kembali tindakan Bung Karno lebih dari 40 tahun lalu yang melarang pemuda Indonesia ber-ngak-ngik-ngok. Dulu saya bingung, namun sekarang saya bisa lebih mengerti. Ternyata musik jenis ini bisa menjadi pembuka bagi masuknya gaya hidup sangat pragmatis, cair dan hedonis, dan buntutnya adalah konsumtif. Itulah yang ingin dicegah Bung Karno. Dengan ngak-ngik-ngok yang mendayu-dayu para pemuda mudah terlena dan mudah tercerabut dari nilai-nilai idealisme. Apalagi bila musik itu disertai gaya pergaulan longgar serta dibumbui alkohol dan narkoba. Maka hasilnya bisa dilihat dengan jelas di sekeliling kita sekarang ini. Rata-rata pemuda masa kini ingin segera bisa hidup enak tapi dengan cara yang cepat dan mudah. Instan. Santai. Amat konsumtif. (Hormat untuk minoritas anak muda yang mau belajar atau bekerja keras dengan cara berjualan mi ayam, jadi buruh pabrik, PKL, TKI, dsb). Namun selebihnya seperti hanya menuruti jebakan kaum modal yang dulu sengaja menghadirkan musik ngak-ngik-ngok yang tidak disukai Bung Karno. Gaya hidup pragmatis, santai, dan amat konsumtif para pemuda sekarang bisa bisa dibuktikan dari berbagai hal. Misalnya, konsumsi rokok yang luar biasa besarnya sehingga bangsa ini menjadi bangsa perokok terbesar di dunia. Di kampus-kampus, kantin dan kafe lebih ramai daripada perpustakaan. Kebutuhan pulsa jauh mengalahkan kebutuhan akan buku. Sebagian besar pemuda Indonesia punya prestasi rendah di bidang akademik. Juga di bidang olehraga. Sebaliknya, hasrat untuk mengonsumsi semua barang yang ditawarkan terutama melalui media TV sangatlah besar. Melalui semua media yang tersedia kaum modal telah berhasil mengubah masyarakat, terutama kaum muda, bukan hanya jadi manusia pragmatis dan konsumtif melainkan juga hidup dalam dunia sensasi. Kaum modal memang tahu, masyarakat yang sudah masuk perangkap sensasi sangat mudah menjadi pembeli barang yang mereka buat, baik barang itu benar-benar dibutuhkan atau hanya diinginkan. Empat puluh tahun lalu Bung Karno pasti sudah menduga keadaan ini akan terjadi dan dia sudah berupaya menyegahnya. Tetapi banyak orang tidak percaya bahkan menertawakannya. Termasuk saya! Saya menyesal telah ikut-ikutan menyepelekan pikiran Bung Karno yang futuristik ini. Sayang sudah terlambat. Namun setidaknya saya masih bisa mengingatkan kepada kelima anak saya: hiduplah dengan idealisme untuk menjadi manusia yang sehat lahir batin dan produktif. Untuk Bung Karno, semoga perjuanganmu bagi bangsa ini menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT. (RioL)

sumber: swaramuslim.net 

June 7, 2007

7 (Tujuh) Indikator Kebahagian Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas

telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.

Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?"

Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.

Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw" (yang artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia "), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

———
Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang,
disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana (Dudung.net)